Arsip untuk ‘Life Story’ Kategori
Pejuang-pejuang Kehidupan
Ditulis oleh Herman di/pada Februari 6, 2009
Ditulis dalam Inspirasi, Life Story | Leave a Comment »
Belajar Usaha Sendiri
Ditulis oleh Herman di/pada Januari 31, 2009
Alhamdulillah, setelah berencana terus menerus akhirnya bisa juga yach saya bikin usaha sendiri, usaha yang di angan-angankan akhirnya bisa jalan juga, walaupun sekalanya masih kecil, tapi sudah merupakan anugrah yang besar buat saya. Dan mudah-mudahan usaha saya ini bisa berjalan dengan baik kedepannya dan melanjutkan usaha-usaha yang lain, untuk saat ini usaha penjualan pulsa sudah berjalan, walaupun masih dalam sekala kecil tapi sudah merupakan kemajuan, Insya Allah kedepannya perencanaan usaha yang lain bisa terwujud.
Benar kata meraka yang sukses yang tergabung dalam TDA (www.tangandiatas.com), semua yang menakutkan kita hanya ada dalam pikiran kita, sedangkan realitas kehidupan sangat berharga, jadi yang punya niatan mau buka usaha cepatan laksanakan, mumpung masih ada semangat..
Dan Alhamdulillah saya juga sudah bisa membuat situs yang nantinya Insya Allah bisa dijadikan toko online, seperti mereka yang sukses juga..hehehehe..yach kita harus ngikuti orang yang sukes dong…ilmunya juga kita serap banyak-banyak…hehehehehe…Semoga apa yang kita usahakan bisa memberi manfaat ke sesama kita..
Sukses Selalu, Maju Bersama, Tumbuh Bersama, Sukses Bersama… Mecoba menuju hari esok yang lebih baik….Amin
Ditulis dalam Life Story | Leave a Comment »
Nulis Lagi
Ditulis oleh Herman di/pada Januari 15, 2009
Alhamdulillah, setelah beberapa bulan disibukkan dengan pekerjaan dan memulai belajar untuk jualan, hari ini bisa nulis lagi .. Selama dua bulan terkahir ini saya mulai belajar memasuki dunia bisnis yang katanya lebih baik dari dunia karyawan dan akhirnya menemukan tempat belajar yang sangat bagus ( www.tangandiatas.com) untuk memulai usaha sendiri dan alhamdulillah setelah 3 bulan berjuang, saya sudah bisa memperoleh penghasilan sendiri di luar gaji bulanan saya, dan mudah-mudahan apa yang saya usahakan ini akan terus berlanjut dan menghasilkan berkah yang kelak berguna bagi saya sendiri, orang-orang di sekitar saya dan siapa saja yang di kehendaki oleh Allah SWT. Inysa Allah… Amin
Ditulis dalam Life Story | Leave a Comment »
STOP Pornografi dan Pornoaksi
Ditulis oleh Herman di/pada Oktober 10, 2008
Belakangan ini banyak terjadi pro dan kontra mengenai akan di sahkannya Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Porno Aksi. Yang pro dengan RUU ini memberikan pandangan bahwa memang harus ada yang mengatur kehidupan moral bangsa kita ini sehingga generasi muda kita akan bermoral yang baik, di lain sisi yang kontra dengan RUU ini memberikan argumentasi bahwa RUU ini akan menghalangi warga Negara untuk mengapresiasikan jiwa seni mereka dan beralasan bahwa ada budaya-budaya daerah tertentu yang tidak bisa mengikuti RUU APP ini, dan berargumen bahwa Negara ini bukanlah hanya milik suatu golongan tertentu sehingga tidak boleh menetapkan undang-undang yang akan merugikan warga lain.
Di samping kedua argument diatas coba mari kita lihat kembali pada kehidupan sehari-hari kita sekarang ini, apakah memang kita membutuhkan Undang-undang ini atau tidak. Mulai dari kehidupan rumah tangga kita sendiri, sekarang kita melihat perubahan tren dari segi berpakaian remaja sekarang yang serba mempertontonkan “Keindahan” tubuh mereka, di jalan-jalan umum sudah bukan barang langka lagi untuk melihat para remaja-remaja yang tidak malu-malu memperlihatkan lekukan tubuh mereka, anak-anak remaja perempuan akan merasa tidak gaul jika pakaian mereka adalah pakaian yang tidak mini.Lepas dari lingkungan keluarga, dijalan-jalan sudah menjadi lumrah pakaian-pakaian yang menimbulkan nafsu orang lain, di tempat-tempat umum, di tempat-tempat perbelanjaan hal ini sudah menjadi kewajiban bagi para remaja untuk berpakaian mini. Apakah kita menginginkan ini terjadi pada saudara, atau anak kita ?.
Dan apakah mungkin kita untuk mengawasi kehidupan mereka 24 Jam, dimana saja mereka, apa yang mereka lakukan sehingga bisa terbebas dari dampak negative pornografi dan pornoaksi. Apakah kita tau apa yang mereka lakukan di jalan, di sekolah, di mal-mal, ditempat-tempat rekreasi ?. Dengan adanya Undang-undang ini setidaknya kita bisa sedikit tenang, karena adanya pembatasan secara umum, dan bukankah ini akan menguntungkan bagi kita semua, bukan hanya agama atau golongan atau budaya tertentu, saya kira semua orang ingin hidup dengan moral yang baik, semua agama, semua budaya pasti menginginkan terciptanya masyarakat yang bermoral baik.
Jika anak kita, saudara dapat tumbuh dilingkungan yang baik, dengan moral yang baik, apabila bepergian pulang dengan aman kerumah maka siapa yang tidak akan bahagia ?..
Ditulis dalam Life Story | Leave a Comment »
Kita Hanya Tahu Sepotong dari Keseluruhan Drama Kehidupan
Ditulis oleh Herman di/pada September 10, 2008
Sumber : KotaSantri.com
Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.
Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orangtua itu selalu menolak, “Kuda ini bukan kuda bagi saya,” katanya. “Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat, bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat?” Orangtua itu miskin dan selalu mendapat godaan besar. Tetapi ia tidak mau menjual kuda itu.
Suatu pagi, ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. “Orangtua bodoh,” mereka mengejek dia. “Sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kuda Anda. Kami peringatkan bahwa Anda akan dirampok. Anda begitu miskin. Mana mungkin Anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Sebaiknya Anda menjualnya. Anda boleh minta harga berapa saja. Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan Anda dikutuk oleh kemalangan.”
Orangtua itu menjawab, “Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu, selebihnya adalah penilaian. Apakah saya dikutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat menghakimi?”
Orang-orang desa itu protes, “Jangan menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak diperlukan. Fakta sederhana bahwa kuda Anda hilang adalah kutukan.”
Orangtua itu berbicara lagi, “Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?”
Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol. Kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orangtua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.
Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak dicuri, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul di sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan, “Orangtua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami.”
Jawab orang itu, “Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik. Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana Anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang Anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu.”
“Barangkali orangtua itu benar,” mereka berkata satu sama lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.
Orangtua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul di sekitar orangtua itu dan menilai. “Anda benar,” kata mereka. “Anda sudah buktikan bahwa Anda benar. Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tua Anda tidak punya siapa-siapa untuk membantu Anda. Sekarang Anda lebih miskin lagi.”
Orangtua itu berkata, “Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong.”
Maka dua minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orangtua itu yang tidak diminta karena ia terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orangtua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan melihat anak-anak mereka kembali. “Anda benar, orangtua!” mereka menangis. “Tuhan tahu, Anda benar. Ini buktinya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya.”
Orangtua itu berujar, “Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini, anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Allah yang tahu.”
***
Orangtua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita
Ditulis dalam Inspirasi | 1 Komentar »
Sayap-sayap Diri Sejati
Ditulis oleh Herman di/pada September 10, 2008
Penulis: GedePrama
Kendati Max Weber sudah ratusan tahun yang lalu membahas soal karisma kepemimpinan, dan memberikan beberapa sumber yang meyakinkan, toh tidak semua orang yang tahu lantas bisa memillikinya. Ratusan artikel, tidak sedikit buku yang sudah diterbitkan untuk urusan ini, namun toh masih saja ada misteri yang tersisa.
Memang kedengaran tidak populer, kalau di tengah pencaharian-pencaharian dari luar (legalitas, legitimitas, dan sejenisnya), kalau saya kemudian mengajak orang untuk mencari sumber-sumber karisma di sini : di dalam diri kita sendiri. Meminjam argumen salah seorang seniman besar India yang bernama Kabir, ?Janganlah datang ke taman, dalam tubuh kita sudah ada taman. Duduklah di atas pohon lotus, dan temukan suka cita di sana?.
Ini berarti, ada banyak sekali sumber yang tersedia dalam diri ini. Akan tetapi, karena berbagai faktor, sumber tadi hanya terbuang percuma, kemudian kita mencarinya di luar. Sebutlah orang yang mencari kesenangan melalui harta dan wisata. Ia mirip dengan memindahkan buih ombak ke rumah. Ketika buih itu kita ambil dengan ember misalnya, ada rasa senang dan bangga, karena kita akan bisa memamerkan buih ombak kepada keluarga dan kerabat di rumah. Namun, tatkala sudah sampai di rumah, baru kita sadar yang tersisa hanya air biasa.
Dalam keheningan dan kejernihan, ingin saya bertutur ke Anda, sayapun pernah lama terlibat dalam kegiatan ?memindahkan buih ombak?. Tidak sepenuhnya sia-sia tentunya, namun cukup memberi pelajaran, bukan hanya di luar sana tersedia sumber-sumber kepemimpinan dan suka cita. Di dalam diripun, ada sumber-sumber dalam jumlah tidak terbatas.
Ibarat sebuah pesawat terbang, tubuh dan jiwa ini sebenarnya sudah memiliki semua komponen yang memungkinkan kita manusia bisa ?terbang? tinggi-tinggi. Cuman, karena demikian banyak beban dan muatan tidak perlu yang kita bawa ke mana-mana, maka jadilah kehidupan banyak orang seperti pesawat yang hanya parkir di lapangan udara. Sebagian dari beban-beban tidak perlu tadi adalah rasa marah, benci, dengki, ego, nafsu dan beban-beban sejenis. Sekilas tampak, kemarahan dan kebencian memang bisa memuaskan diri kita dan memberatkan orang lain. Padahal yang sering terjadi malah sebaliknya, ia lebih memberatkan diri kita sendiri.
Pernah dilakukan wawancara mendalam terhadap lima ratus orang yang pernah terkena penyakit serangan jantung. Lebih dari delapan puluh persen responden, memiliki ?hobi? marah-marah. Ada sahabat seorang penulis yang iseng-iseng melakukan penelitian kepustakaan terhadap pemimpin-pemimpin besar yang legendaris. Kebanyakan pemimpin-pemimpin jenis terakhir adalah kumpulan orang-orang yang penyabar, pemaaf dan amat rajin mendidik diri untuk senantiasa mencintai orang lain. Makanya, tidak heran kalau seorang sahabat intelektual pernah menyebutkan : ?membalas kebencian dengan cinta dan kasih sayang adalah prestasi tersulit dan tertinggi yang bisa dicapai manusia di atas bumi ini?. Ada yang bertanya, bagaimana beban-beban tidak perlu ini bisa dibuang ? Sayangnya saya bukan psikolog, namun ada sahabat yang meyakini, bahwa kemarahan dan kebencian akan semakin sering datang berkunjung kalau kita sering mengingat-ingatnya.
Ini baru berkaitan dengan pengurangan beban. Sama pentingnya dengan kegiatan mengurangi beban-beban tidak perlu, pencaharian untuk menemukan diri sejati juga sama perlunya. Pertanyaan dasar dan klisenya berbunyi : who am I ? Pohon memang tidak akan pernah tahu, dari bibit apa ia terbuat. Kuda juga tidak terlalu perduli, dalam keadaan bagaimana ibunya ketika ia berada dalam kandungan. Demikian juga dengan kucing, asal muasal dan pengalaman masa lalu bukanlah sebuah perkara yang layak untuk dicermati.
Tidak demikian halnya dengan manusia ? lebih-lebih yang mau jadi pemimpin. Pengenalan dan penghayatan terhadap ?bahan-bahan? diri kita adalah perkara besar dalam hidup. Kondisi sang Ibu ketika kita di dalam kandungan, pengalaman masa kecil, kejadian-kejadian ekstrim dalam hidup yang hadir sebagai sinyal-sinyal dari sutradara kehidupan, alasan-alasan yang berada di balik tanjakan dan turunan kehidupan. Semua ini adalah sumber-sumber informasi yang bisa membawa kita pada pemahaman diri kita yang sejati. Sejumlah psikolog bahkan pernah merekomendasikan untuk melakukan penelusuran lebih jauh : sampai tahapan kehidupan kita sebelumnya.
Bacaan dan pengalaman hidup saya bertutur, pada titik di mana kita sudah mengenali diri kita yang sejati, badan dan jiwa ini sudah dipenuhi oleh saya-sayap diri sejati yang siap membawa kita terbang tinggi-tinggi. Rezeki, jodoh, lahir dan mati memang bukan wewenang manusia. Tetapi masih dalam wewenang kita untuk mengisi hidup ini dengan penuh suka cita, memberi vitamin terhadap tubuh dan jiwa, atau membiarkan sayap-sayap diri sejati tumbuh dengan lancarnya. Menjadi konglomerat material memang masih wewenang Tuhan. Namun, kita bisa mencapai prestasi sebagai konglomerat spiritual ? dari mana semua wibawa, karisma, dan keseganan orang lain berasal ? kalau saja kita rajin berusaha menemukan bahan-bahan dari mana kita terbuat.
Kombinasi dari telah terbuangnya beban-beban tidak perlu, dengan ditemukannya kesejatian diri inilah yang kerap disebut banyak pemikir sebagai sayap-sayap diri sejati.
Ditulis dalam Inspirasi | Leave a Comment »
Orang yang Sedang Iri itu Adalah Orang yang Sedang Saya Irikan
Ditulis oleh Herman di/pada September 10, 2008
OLEH : Prie GS
Lewat email seorang kawan menulis tentang keiriannya pada segolongan orang yang menurutnya amat enak hidupnya. Pekerjaannya cuma begitu tapi gajinya sebesar itu. Sudah gaji sebesar itu, masih mendapat tunjangan ini itu, pergi ke sini ke situ tanpa harus bepikir ini itu. Sudah begitu masih pula berkesempatan manaikkan tunjangan dan mem-mark up anggaran Sementara aku, untuk mencari sejumlah itu, butuh begini kerja keras membanting tulang, harus memeras keringat dan darah sepanjang hidupku,” katanya.
Saya memahami keirian ini. Saya bukan tidak pernah jengkel melihat seorang yang begitu mudah mendapatkan sesuatu, sementara yang mudah bagi dia itu adalah soal yang harus saya capai dengan susah payah. Begitu mudahnya mereka mencapai hal itu, sehinga soal yang amat susah bagi kita menjadi soal yang amat mudah bagi dia. Sama-sama sedang memakai kata ”amat” tapi betapa jauh beda keadaan saya dengan dia.
Saya memahami kejengkelan teman saya ini, karena kejengkelan serupa juga pernah saya alami. Rambut kepala rasanya seperti hendak terbakar. Cemburu kepada kemudahan orang lain dan marah kepada kemalangan diri sendiri. Lebih-lebih ketika semua yang mudah dari orang lain itu, di mata kita, didapat dari cara yang salah. Maka mengepullah uap dendam kesumat di ubun-ubun ini melihat bagaimana mungkin orang yang salah bisa hidup mewah, sementara si benar malah begini susah.
Tapi begitu sibuknya saya memendam dendam ini sehingga lupa pada kerancuan logika saya sendiri. Saya telah mengacaukan sebuah persamaan bahwa yang mudah itu selalu berarti gembira dan yang susah itu selalu berarti sengsara. Sejak kapan berlaku rumus bahwa kemudahan selalu berarti kegembiraan dan kesusahan selalu berarti penderitaan? Padahal ada banyak fakta yang begitu kacaunya, yang amat tidak patuh pada asumsi saya semula itu.
Karena ternyata ada pihak yang digembirakan oleh kesusahannya dan ada orang yag disengsarakan oleh kemudahannya. Kalau tak percaya tengoklah penjara di hari-jari ini. Ada orang yang karena begitu mudahnya hingga memudahkan apa saja sehingga kemudahan itu menuntunnya ke pintu penjara. Di dalam kemudahan, manusia menjadi mudah untuk berbuat apa saja termasuk mudah berbuat salah. Di dalam kesusahan manusia juga susah berbuat apa saja termasuk susah berbuat salah.
Jadi karena susahnya, ada jenis manusia yang terpaksa sulit berbuat salah karena kesempatannya tidak ada. Bagaimana mau korupsi, jika lahannya tidak ada. Bagaimama mau membuat mark up anggaran, jika jabatan dia tak punya. Jadi yang ia bisa lakukan hanya bekerja keras dan makan cuma dari uang yang halal-halal saja. Keadaan inilah yang sebetulnya saya lihat dari sahabat saya yang sedang jengkel itu.
Ia bukan orang miskin. Hanya kelemahnnya memang, semua dari rezekinya itu ia dapatkan dari kerja keras. Saya iri pada keadaan ini karena saya paham watak saya sendiri. Jika ada kesempataan saya pun pasti tergoda korupsi. Maka hidup dalam sebuah keadaan yang tidak memungkin korupsi pasti bikin iri. Tapi ternyata pihak yang sedang saya irikan ini ternyata diam-diam malah sedang iri pada pihak yang sedang tidak saya irikan. Hehehe… bingung ya!
Ditulis dalam Inspirasi | Leave a Comment »
Doa Salah Jurusan
Ditulis oleh Herman di/pada Mei 9, 2008
Doa Salah Jurusan
Oleh: Prie GS
Ini kisah seorang bapak muda dengan anak prematur yang tengah menjemput
ajal. Bayi itu, hanya sekepal tangan besarnya dan cuma bisa tergolek kaku di
inkubator dengan tubuh seluruhnya membiru. Bibirnya sama sekali menolak
bereaksi dan tubuhnya dipenuhi empat selang di empat penjuru. ”Harap
tabah,” kata dokter kepada bapak muda ini. Ia bapak yang cerdas, apa arti
kalimat dokter ini telah ia pahami.
Bapak muda ini seorang santri. Maka rerfleks santrinya cepat bekerja.
Menghadapi ancaman maut seperti ini, ia menggali tradisi yang jamak di
desanya, yakni dukungan sebuah jamaah doa. Sementara ia sendiri menunggui
anak di rumah skait, ia meminta orang rumah untuk mengumpulkan tetangga dan
memohon dukungan doa hidup bagi si anak.
Tak sulit menjalankan tradisi ini, karena kampungnya memang kampung santri.
Tak cuma kampungnya, keluarganya sendiri adalah para pendoa ulung karena
mereka keurunan seseou desa yang juga kiai. Tapi hari itu, kampung sedang
kosong. Seluruh kiai dan pendoa terbaik di kampung itu sedang berziarah ke
makam para wali, termasuk sebagian besar keluarganya sendiri. Yang ada
hanyalah para pekerja dan jika masih tersisa seorang pendoa itu pun cuma
pendoa papan bawah dengan lidah cadel pula.
Di hari-hari biasa, orang ini hanya layak menjadi jamaah dan penggembira. Ia
jenis manusia kebanyakan dan diangap warga kelas dua. Tapi orang inilah
satu-satunya yang di hari itu layak menjadi imam dan memimipin doa karena
lain tak ada. Dari rumah sakit, bapak muda ini hanya bisa tepana. Keadaan
anaknya yang sudah amat payah.
Keadaan semacam itu jelas butuh doa kelas satu. Dengan doa itupun hasilnya
hanya Tuhan yang tahu. Padahal yang tersedia cuma doa lapis bawah. Maka si
bapak muda ini pasrah. Ia membiarkan majelis doa seadanya itu berjalan
semampunya.
Tapi dasar imam papan bawah. Sudah mutu bacaannya payah, ia membaca doa yang
salah pula. Yang dibacakan oleh majelis kacau ini adalah doa percepatan
kematian. Dari rumah sakit, bapak muda yang mendengar kabar tentang jenis
doa apa yang dipanjatkan untuk anaknya itu cuma tambah gundah belaka.
Para pendoa itu, jangankan mengerti salah dan benarnya jenis doa yang mereka
baca, karena untuk memahami apa arti doa yang mereka ucapkan pun sudah di
luar kesanggupan. Jadi doa itu derajatnya cuma serupa mantera yang mereka
ucapkan tak lebih karena semata-semata cuma hafalan. Hafalan pun, doa itu
adalah satu-satunya hafalan yang mereka bisa.
Jadi lengkap sudah. Di mata bapak yang sedang berduka ini, nasib anaknya
sudah ditentukan. Ketabahan harus dia siapkan. Doa yang yang salah jurusan
itu hanya isyarat, bahwa Tuhan belum mempercayakan titipan anak itu
kepadanya. Ia meyerah.
Tapi belum genap kepasrahan itu berjalan kekagetan sudah menyergapnya. Esok
hari, bibir anaknya itu bergerak-gerak. Anak yang semula cuma seperti
sekepal patung itu menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dari vonis tiga bulan
harus mengeram di inkubator, cuma dalam waktu sebelas hari anak itu bisa
diboyong pulang. Kini anak yang menghebohkan itu telah tumbuh menjadi bayi
yang montok, sehat dan cerdas.
Bapak muda ini, setiap kali memandangi anaknya dengan ketakjuban, selalu
juga diikuti oleh takjub lanjutan, yakni takjub pada para pendoa kelas dua
itu. Para pendoa papan bawah yang cuma hafal doanya tapi tanpa paham
maknanya itu. Cuma bisa bisa hafal itupun cuma satu-satunya hafalan. Tapi
jika doa murahan semacam itu pun dikabulkan, berarti ada jenis sifat Tuhan
yang harus ditambahkan, yakni Maha Suka-suka. Mau mengabulkan doa atau tidak
suka-suka Tuhan saja, bukan karena mutu pendoanya.
Maka, bagi pendoa yang terlalu fasih, teralu lancar lidahnya, terlalu merdu
suaranya, jika saking merdunya malah takjub pada kemerduannya sendiri,
penting mewaspadai hukum Tuhan yang satu ini!
Ditulis dalam Inspirasi | Leave a Comment »
Tukang Tambal Ban
Ditulis oleh Herman di/pada April 9, 2008
kemarin pas lagi jalan-jalan sore , eh ga taunya ban motor saya yang bagian depan bocor, tapi Alhamdulillah hanya beberapa meter dari tempat kejadian ada tukang tambal ban, wah senang sekali karena saya ga harus dorong motor yang super berat itu jauh-jauh, maklum motor jaman dulu..masih berat..
Tapi pas nyampe ternyata saya harus ngantri…yach daripada capek nungguin, saya ma doi ke warung bakso dulu, paling juga 15 menit dah kelar, eh ga taunya dah setengah jam lom kelar-kelar juga. Kok bisa yach ??
pas saya liatin, eh ga taunya Bapak yang nambalnya lagi sakit, jadi kerjanya perlahan-lahan, itu juga dia kerjakan mungkin karena sudah janji sama saya kalo mau ngerjain. Wah saya jadi ga enak..dengan kondisi begitu dia tetap berusaha menambal ban saya, untuk membuka ban saja dia perlu beberapa menit. Dan walaupun dia tukang tambal ban , tapi dia profesional dan tidak mau dibantu. Setelah hampir 45 menit akhirnya selesai juga, karena doi kasihan dia memberi Rp10000 dan Bapak tersebut mengembalikan Rp.5000, kemudian saya bilang tidak usah, tapi dia tetap tidak mau menerima. Bayangkan hanya untuk mendapatkan uang sebesar Rp.5000 dia rela bersakit-sakit menambal ban. sementara kita yang mungkin hanya duduk-duduk , masih berusaha untuk memperoleh lebih dari yang layak kita peroleh, dengan cara-cara yang tidak benar. Alangkah bahagianya mereka yang bisa bersyukur dengan apa yang mereka peroleh dari hasil keringat sendiri yang hanya mau menerima apa yang sesuai dengan yang mereka kerjakan.
Ditulis dalam Inspirasi | Leave a Comment »
Ganti Nomor Ke Simpati
Ditulis oleh Herman di/pada Maret 26, 2008
Setelah beberapa Minggu menunggu, akhirnya udah bulat dech tekad untuk ganti nomor ke Simpati, emang sih mahal tapi yach mau gimana lagi. Untuk indosat saya sudah sangat kecewa, padahal saya pengguna mentari yang sudah cukup lama (sekitar 4 tahun lebih), tetapi karena sesuatu hal yang sangat tidak diharapkan terjadi, maka saya putuskan untuk tidak menggunakan produk indosat lagi. Dan beralih ke Telkomsel simpati, ini bukan karena adanya simpati PD, sebenarnya mau milih xl, tapi ribet banget tuh kelihatannya iklannya dan sepertinya ga logis, mau milih three, disini belum ada, apalagi axis, yach walaupun make simpati yang sangat mahal, kan sekedar untuk backup aja kalo nomor flexi dan fren saya ga bisa di hubungi…
Ditulis dalam Life Story | Leave a Comment »
