Sh1n1n9 L1f3

Menuju Hari Esok Yang Lebih Baik Dari Hari ini

Arsip untuk September, 2008

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H

Ditulis oleh Herman di/pada September 30, 2008

Di hari yang Fitri ini, Hati Kita Yang Kelam

Kini Telah Suci Kembali

Mari Kita Jaga Kesucian Hati Kita

Takabbalahu minna wa minkum

Siyamana wa siyamakum

Minal Aidin wal Faizin
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Susu Beracun dari Cina

Ditulis oleh Herman di/pada September 22, 2008

Kemarin melihat marak di beritakan kalo sekarang sudah ada beredar susu dari cina yang mengandung melamin yang sangat berbahaya. Ini membuat kita harus terus waspada terhadap makanan-makanan yang beredar, tidak hanya susu saja, mungkin saatnya kita mewaspadai semua produk-produk dari negara cina. Memang belakangan ini negara kita dibanjiri oleh produk-produk dari negara cina, secara ekonomis memang produk cina ini jauh lebih murah dari produk-produk negara asia lainnya, bahkan negara kita sendiri, tapi kita harus juga melihat resiko yang di dapat dari produk murah tersebut. Setidaknya mulai sekarang pemerintah bisa belajar, bahwa tidak setiap yang murah itu baik, dan pemerintah berusaha memberdayakan produk dalam negeri yang mungkin masih bisa di jamin ke asliannya.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Informasi dan Kehidupan

Ditulis oleh Herman di/pada September 16, 2008

Semakin banyak yang kita tau akan kehidupan ini maka semakin takut kita untuk menjalani hidup ini, contohnya dahulu kala sebelum orang mengetahui tentang adanya kuman yang berbahaya sehingga bisa mematikan , maka kehidupan orang serba bebas, tidak ada yang takut akan sakit akibat kuman tersebut, sekarang kehidupan kita yang penuh dengan pengetahuan yang sangat mudah kita peroleh dengan semakin cangihnya sistem informasi, malah membuat ruang lingkup kehidupan kita semakin sempit, semuanya serba di batasi, kita akan selalu waspada akan lingkungan kita, kotor sedikit saja , sudah takut sekali, apalagi jika kita tinggal di daerah perkotaan yang pencemarannya sudah sangat parah, maka kesehatan merupakan hal yang sangat meminta perhatian khusus. Belum lagi informasi-informasi yang kita dapatkan dari berbagai media informasi sekarang ini, semakin membuat hidup kita selalu dihantui rasa was-was. Hari-hari kita hanya disuguhi berita tentang pembunuhan, penculikan, kecelakaan, penipuan yang terjadi dimana-mana dan diberbagai bidang kehidupan, kerusuhan yang penyebabnya bermacam-macam, semua itu membuat kita semakin kuatir akan kehidupan masa depan kita. Hal-hal yang mungkin seharusnya kita tidak menjadi kebutuhan kita akan sangat mudah kita peroleh. Mungkin saatnya kita untuk segera memilah-milah informasi yang kita dapatkan, dan hanya menerima informasi-informasi yang positif saja dan meninggalkan informasi yang membuat ruang lingkup hidup kita semakin sempit. Mengurangi mengkonsumsi informasi-informasi tentang kejahatan dan hal-hal buruk lainnya dan mulai mencari informasi-informasi yang berguna bagi kehidupan kita saja. Mungkin kita membutuhkan media informasi yang selalu memberi informasi yang positif kepada kita sehingga kehidupan kita bisa senyaman kehidupan pada masa lalu yang tidak dihantui oleh rasa ketakutan .

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Kita Hanya Tahu Sepotong dari Keseluruhan Drama Kehidupan

Ditulis oleh Herman di/pada September 10, 2008


Sumber : KotaSantri.com

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.

Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orangtua itu selalu menolak, “Kuda ini bukan kuda bagi saya,” katanya. “Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat, bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat?” Orangtua itu miskin dan selalu mendapat godaan besar. Tetapi ia tidak mau menjual kuda itu.

Suatu pagi, ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. “Orangtua bodoh,” mereka mengejek dia. “Sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kuda Anda. Kami peringatkan bahwa Anda akan dirampok. Anda begitu miskin. Mana mungkin Anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Sebaiknya Anda menjualnya. Anda boleh minta harga berapa saja. Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan Anda dikutuk oleh kemalangan.”

Orangtua itu menjawab, “Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu, selebihnya adalah penilaian. Apakah saya dikutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat menghakimi?”

Orang-orang desa itu protes, “Jangan menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak diperlukan. Fakta sederhana bahwa kuda Anda hilang adalah kutukan.”

Orangtua itu berbicara lagi, “Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?”

Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol. Kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orangtua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.

Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak dicuri, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul di sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan, “Orangtua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami.”

Jawab orang itu, “Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik. Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana Anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang Anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu.”

“Barangkali orangtua itu benar,” mereka berkata satu sama lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.

Orangtua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul di sekitar orangtua itu dan menilai. “Anda benar,” kata mereka. “Anda sudah buktikan bahwa Anda benar. Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tua Anda tidak punya siapa-siapa untuk membantu Anda. Sekarang Anda lebih miskin lagi.”

Orangtua itu berkata, “Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong.”

Maka dua minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orangtua itu yang tidak diminta karena ia terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orangtua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan melihat anak-anak mereka kembali. “Anda benar, orangtua!” mereka menangis. “Tuhan tahu, Anda benar. Ini buktinya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya.”

Orangtua itu berujar, “Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini, anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Allah yang tahu.”

***

Orangtua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita

Ditulis dalam Inspirasi | 1 Komentar »

Sayap-sayap Diri Sejati

Ditulis oleh Herman di/pada September 10, 2008

Penulis: GedePrama

Kendati Max Weber sudah ratusan tahun yang lalu membahas soal karisma kepemimpinan, dan memberikan beberapa sumber yang meyakinkan, toh tidak semua orang yang tahu lantas bisa memillikinya. Ratusan artikel, tidak sedikit buku yang sudah diterbitkan untuk urusan ini, namun toh masih saja ada misteri yang tersisa.

Memang kedengaran tidak populer, kalau di tengah pencaharian-pencaharian dari luar (legalitas, legitimitas, dan sejenisnya), kalau saya kemudian mengajak orang untuk mencari sumber-sumber karisma di sini : di dalam diri kita sendiri. Meminjam argumen salah seorang seniman besar India yang bernama Kabir, ?Janganlah datang ke taman, dalam tubuh kita sudah ada taman. Duduklah di atas pohon lotus, dan temukan suka cita di sana?.

Ini berarti, ada banyak sekali sumber yang tersedia dalam diri ini. Akan tetapi, karena berbagai faktor, sumber tadi hanya terbuang percuma, kemudian kita mencarinya di luar. Sebutlah orang yang mencari kesenangan melalui harta dan wisata. Ia mirip dengan memindahkan buih ombak ke rumah. Ketika buih itu kita ambil dengan ember misalnya, ada rasa senang dan bangga, karena kita akan bisa memamerkan buih ombak kepada keluarga dan kerabat di rumah. Namun, tatkala sudah sampai di rumah, baru kita sadar yang tersisa hanya air biasa.

Dalam keheningan dan kejernihan, ingin saya bertutur ke Anda, sayapun pernah lama terlibat dalam kegiatan ?memindahkan buih ombak?. Tidak sepenuhnya sia-sia tentunya, namun cukup memberi pelajaran, bukan hanya di luar sana tersedia sumber-sumber kepemimpinan dan suka cita. Di dalam diripun, ada sumber-sumber dalam jumlah tidak terbatas.

Ibarat sebuah pesawat terbang, tubuh dan jiwa ini sebenarnya sudah memiliki semua komponen yang memungkinkan kita manusia bisa ?terbang? tinggi-tinggi. Cuman, karena demikian banyak beban dan muatan tidak perlu yang kita bawa ke mana-mana, maka jadilah kehidupan banyak orang seperti pesawat yang hanya parkir di lapangan udara. Sebagian dari beban-beban tidak perlu tadi adalah rasa marah, benci, dengki, ego, nafsu dan beban-beban sejenis. Sekilas tampak, kemarahan dan kebencian memang bisa memuaskan diri kita dan memberatkan orang lain. Padahal yang sering terjadi malah sebaliknya, ia lebih memberatkan diri kita sendiri.

Pernah dilakukan wawancara mendalam terhadap lima ratus orang yang pernah terkena penyakit serangan jantung. Lebih dari delapan puluh persen responden, memiliki ?hobi? marah-marah. Ada sahabat seorang penulis yang iseng-iseng melakukan penelitian kepustakaan terhadap pemimpin-pemimpin besar yang legendaris. Kebanyakan pemimpin-pemimpin jenis terakhir adalah kumpulan orang-orang yang penyabar, pemaaf dan amat rajin mendidik diri untuk senantiasa mencintai orang lain. Makanya, tidak heran kalau seorang sahabat intelektual pernah menyebutkan : ?membalas kebencian dengan cinta dan kasih sayang adalah prestasi tersulit dan tertinggi yang bisa dicapai manusia di atas bumi ini?. Ada yang bertanya, bagaimana beban-beban tidak perlu ini bisa dibuang ? Sayangnya saya bukan psikolog, namun ada sahabat yang meyakini, bahwa kemarahan dan kebencian akan semakin sering datang berkunjung kalau kita sering mengingat-ingatnya.

Ini baru berkaitan dengan pengurangan beban. Sama pentingnya dengan kegiatan mengurangi beban-beban tidak perlu, pencaharian untuk menemukan diri sejati juga sama perlunya. Pertanyaan dasar dan klisenya berbunyi : who am I ? Pohon memang tidak akan pernah tahu, dari bibit apa ia terbuat. Kuda juga tidak terlalu perduli, dalam keadaan bagaimana ibunya ketika ia berada dalam kandungan. Demikian juga dengan kucing, asal muasal dan pengalaman masa lalu bukanlah sebuah perkara yang layak untuk dicermati.

Tidak demikian halnya dengan manusia ? lebih-lebih yang mau jadi pemimpin. Pengenalan dan penghayatan terhadap ?bahan-bahan? diri kita adalah perkara besar dalam hidup. Kondisi sang Ibu ketika kita di dalam kandungan, pengalaman masa kecil, kejadian-kejadian ekstrim dalam hidup yang hadir sebagai sinyal-sinyal dari sutradara kehidupan, alasan-alasan yang berada di balik tanjakan dan turunan kehidupan. Semua ini adalah sumber-sumber informasi yang bisa membawa kita pada pemahaman diri kita yang sejati. Sejumlah psikolog bahkan pernah merekomendasikan untuk melakukan penelusuran lebih jauh : sampai tahapan kehidupan kita sebelumnya.

Bacaan dan pengalaman hidup saya bertutur, pada titik di mana kita sudah mengenali diri kita yang sejati, badan dan jiwa ini sudah dipenuhi oleh saya-sayap diri sejati yang siap membawa kita terbang tinggi-tinggi. Rezeki, jodoh, lahir dan mati memang bukan wewenang manusia. Tetapi masih dalam wewenang kita untuk mengisi hidup ini dengan penuh suka cita, memberi vitamin terhadap tubuh dan jiwa, atau membiarkan sayap-sayap diri sejati tumbuh dengan lancarnya. Menjadi konglomerat material memang masih wewenang Tuhan. Namun, kita bisa mencapai prestasi sebagai konglomerat spiritual ? dari mana semua wibawa, karisma, dan keseganan orang lain berasal ? kalau saja kita rajin berusaha menemukan bahan-bahan dari mana kita terbuat.

Kombinasi dari telah terbuangnya beban-beban tidak perlu, dengan ditemukannya kesejatian diri inilah yang kerap disebut banyak pemikir sebagai sayap-sayap diri sejati.

Ditulis dalam Inspirasi | Leave a Comment »

Orang yang Sedang Iri itu Adalah Orang yang Sedang Saya Irikan

Ditulis oleh Herman di/pada September 10, 2008

OLEH : Prie GS

Lewat email seorang kawan menulis tentang keiriannya pada segolongan orang yang menurutnya amat enak hidupnya. Pekerjaannya cuma begitu tapi gajinya sebesar itu. Sudah gaji sebesar itu, masih mendapat tunjangan ini itu, pergi ke sini ke situ tanpa harus bepikir ini itu. Sudah begitu masih pula berkesempatan manaikkan tunjangan dan mem-mark up anggaran Sementara aku, untuk mencari sejumlah itu, butuh begini kerja keras membanting tulang, harus memeras keringat dan darah sepanjang hidupku,” katanya.

Saya memahami keirian ini. Saya bukan tidak pernah jengkel melihat seorang yang begitu mudah mendapatkan sesuatu, sementara yang mudah bagi dia itu adalah soal yang harus saya capai dengan susah payah. Begitu mudahnya mereka mencapai hal itu, sehinga soal yang amat susah bagi kita menjadi soal yang amat mudah bagi dia. Sama-sama sedang memakai kata ”amat” tapi betapa jauh beda keadaan saya dengan dia.

Saya memahami kejengkelan teman saya ini, karena kejengkelan serupa juga pernah saya alami. Rambut kepala rasanya seperti hendak terbakar. Cemburu kepada kemudahan orang lain dan marah kepada kemalangan diri sendiri. Lebih-lebih ketika semua yang mudah dari orang lain itu, di mata kita, didapat dari cara yang salah. Maka mengepullah uap dendam kesumat di ubun-ubun ini melihat bagaimana mungkin orang yang salah bisa hidup mewah, sementara si benar malah begini susah.

Tapi begitu sibuknya saya memendam dendam ini sehingga lupa pada kerancuan logika saya sendiri. Saya telah mengacaukan sebuah persamaan bahwa yang mudah itu selalu berarti gembira dan yang susah itu selalu berarti sengsara. Sejak kapan berlaku rumus bahwa kemudahan selalu berarti kegembiraan dan kesusahan selalu berarti penderitaan? Padahal ada banyak fakta yang begitu kacaunya, yang amat tidak patuh pada asumsi saya semula itu.

Karena ternyata ada pihak yang digembirakan oleh kesusahannya dan ada orang yag disengsarakan oleh kemudahannya. Kalau tak percaya tengoklah penjara di hari-jari ini. Ada orang yang karena begitu mudahnya hingga memudahkan apa saja sehingga kemudahan itu menuntunnya ke pintu penjara. Di dalam kemudahan, manusia menjadi mudah untuk berbuat apa saja termasuk mudah berbuat salah. Di dalam kesusahan manusia juga susah berbuat apa saja termasuk susah berbuat salah.

Jadi karena susahnya, ada jenis manusia yang terpaksa sulit berbuat salah karena kesempatannya tidak ada. Bagaimana mau korupsi, jika lahannya tidak ada. Bagaimama mau membuat mark up anggaran, jika jabatan dia tak punya. Jadi yang ia bisa lakukan hanya bekerja keras dan makan cuma dari uang yang halal-halal saja. Keadaan inilah yang sebetulnya saya lihat dari sahabat saya yang sedang jengkel itu.

Ia bukan orang miskin. Hanya kelemahnnya memang, semua dari rezekinya itu ia dapatkan dari kerja keras. Saya iri pada keadaan ini karena saya paham watak saya sendiri. Jika ada kesempataan saya pun pasti tergoda korupsi. Maka hidup dalam sebuah keadaan yang tidak memungkin korupsi pasti bikin iri. Tapi ternyata pihak yang sedang saya irikan ini ternyata diam-diam malah sedang iri pada pihak yang sedang tidak saya irikan. Hehehe… bingung ya!

Ditulis dalam Inspirasi | Leave a Comment »