Doa Salah Jurusan
Oleh: Prie GS
Ini kisah seorang bapak muda dengan anak prematur yang tengah menjemput
ajal. Bayi itu, hanya sekepal tangan besarnya dan cuma bisa tergolek kaku di
inkubator dengan tubuh seluruhnya membiru. Bibirnya sama sekali menolak
bereaksi dan tubuhnya dipenuhi empat selang di empat penjuru. ”Harap
tabah,” kata dokter kepada bapak muda ini. Ia bapak yang cerdas, apa arti
kalimat dokter ini telah ia pahami.
Bapak muda ini seorang santri. Maka rerfleks santrinya cepat bekerja.
Menghadapi ancaman maut seperti ini, ia menggali tradisi yang jamak di
desanya, yakni dukungan sebuah jamaah doa. Sementara ia sendiri menunggui
anak di rumah skait, ia meminta orang rumah untuk mengumpulkan tetangga dan
memohon dukungan doa hidup bagi si anak.
Tak sulit menjalankan tradisi ini, karena kampungnya memang kampung santri.
Tak cuma kampungnya, keluarganya sendiri adalah para pendoa ulung karena
mereka keurunan seseou desa yang juga kiai. Tapi hari itu, kampung sedang
kosong. Seluruh kiai dan pendoa terbaik di kampung itu sedang berziarah ke
makam para wali, termasuk sebagian besar keluarganya sendiri. Yang ada
hanyalah para pekerja dan jika masih tersisa seorang pendoa itu pun cuma
pendoa papan bawah dengan lidah cadel pula.
Di hari-hari biasa, orang ini hanya layak menjadi jamaah dan penggembira. Ia
jenis manusia kebanyakan dan diangap warga kelas dua. Tapi orang inilah
satu-satunya yang di hari itu layak menjadi imam dan memimipin doa karena
lain tak ada. Dari rumah sakit, bapak muda ini hanya bisa tepana. Keadaan
anaknya yang sudah amat payah.
Keadaan semacam itu jelas butuh doa kelas satu. Dengan doa itupun hasilnya
hanya Tuhan yang tahu. Padahal yang tersedia cuma doa lapis bawah. Maka si
bapak muda ini pasrah. Ia membiarkan majelis doa seadanya itu berjalan
semampunya.
Tapi dasar imam papan bawah. Sudah mutu bacaannya payah, ia membaca doa yang
salah pula. Yang dibacakan oleh majelis kacau ini adalah doa percepatan
kematian. Dari rumah sakit, bapak muda yang mendengar kabar tentang jenis
doa apa yang dipanjatkan untuk anaknya itu cuma tambah gundah belaka.
Para pendoa itu, jangankan mengerti salah dan benarnya jenis doa yang mereka
baca, karena untuk memahami apa arti doa yang mereka ucapkan pun sudah di
luar kesanggupan. Jadi doa itu derajatnya cuma serupa mantera yang mereka
ucapkan tak lebih karena semata-semata cuma hafalan. Hafalan pun, doa itu
adalah satu-satunya hafalan yang mereka bisa.
Jadi lengkap sudah. Di mata bapak yang sedang berduka ini, nasib anaknya
sudah ditentukan. Ketabahan harus dia siapkan. Doa yang yang salah jurusan
itu hanya isyarat, bahwa Tuhan belum mempercayakan titipan anak itu
kepadanya. Ia meyerah.
Tapi belum genap kepasrahan itu berjalan kekagetan sudah menyergapnya. Esok
hari, bibir anaknya itu bergerak-gerak. Anak yang semula cuma seperti
sekepal patung itu menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dari vonis tiga bulan
harus mengeram di inkubator, cuma dalam waktu sebelas hari anak itu bisa
diboyong pulang. Kini anak yang menghebohkan itu telah tumbuh menjadi bayi
yang montok, sehat dan cerdas.
Bapak muda ini, setiap kali memandangi anaknya dengan ketakjuban, selalu
juga diikuti oleh takjub lanjutan, yakni takjub pada para pendoa kelas dua
itu. Para pendoa papan bawah yang cuma hafal doanya tapi tanpa paham
maknanya itu. Cuma bisa bisa hafal itupun cuma satu-satunya hafalan. Tapi
jika doa murahan semacam itu pun dikabulkan, berarti ada jenis sifat Tuhan
yang harus ditambahkan, yakni Maha Suka-suka. Mau mengabulkan doa atau tidak
suka-suka Tuhan saja, bukan karena mutu pendoanya.
Maka, bagi pendoa yang terlalu fasih, teralu lancar lidahnya, terlalu merdu
suaranya, jika saking merdunya malah takjub pada kemerduannya sendiri,
penting mewaspadai hukum Tuhan yang satu ini!